cerita inspirasi

Nama   : Fithri Tyas Hapsari

NRP    : H54100048

Laskar : 23

Saat itu saya sedang duduk dibangku SMP. Saya adalah anak yang cukup menguasai materi, walaupun saya bukan bintang kelas, tetapi nilai ulangan saya selalu baik. Sebenarnya saya bukan anak yang rajin mengulangi pelajaran di rumah, saya hanya belajar jika ada ulangan keesokan harinya.

Ketika saya menginjak kelas IX, saya semakin rajin mendengarkan guru. Saya dan teman sebangku saya memilih duduk di bangku paling depan agar lebih konsentrasi pada pelajaran. Nilai saya pun meningkat. Saya dan teman semeja saya sama-sama berkonsentrasi ketika guru menjelaskan.

Walaupun nilai saya meningkat, ada beberapa materi yang saya kurang saya kuasai, saat materi itu diujikan, nilai saya pun jeblok. Demikian juga dengan teman sebangku saya, ada beberapa materi yang belum dikuasainya dengan baik. Ketika sama-sama mendapat nilai jelek, saya merasa sedih, namun segera melupakannya dan mengejar materi lain. Tidak dengan teman saya, dia tipe orang yang mudah stress.

Jadwal belajar murid kelas IX memang padat, ditambah les-les di tempat bimbingan belajar, membuat murid-murid kelas IX mudah stress. Teman sebangku saya sering terlihat datang kesekolah dengan muka yang sudah lelah dan akhirnya mengikuti pelajaran dengan kurang konsentrasi.

Setelah saya tanyakan alasannya, ternyata dia sering belajar hingga larut malam, walaupun badannya sudah lelah, dia sering memaksakan diri. Sehingga, pelajaran yang dia pelajari tidak terserap maksimal, tetapi malah membuatnya kelelahan. Jika dia mendapat nilai jelekpun dia terlalu sedih berlarut-larut.

Saya memberikan beberapa masukan kepada teman sebangku saya cara-cara belajar lainnya, dan bagaimana mengendalikan perasaan sedih ketika mendapat nilai jelek, karena sedih berlarut-larut berdampak tidak baik juga untuk nilainya. Sejak saat itu, dia menjadi lebih ceria, dan sudah tidak selelah dulu. Saya harap saya telah menginspirasinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

cerita inspirasi

Nama               : Fithri Tyas Hapsari

NRP                :H54100048

Laskar             : 23

Beberapa waktu lalu, tepatnya saat saya kelas XII SMA, saya mengikuti bimbingan belajar didekat sekolah saya. Mayoritas pelajar di bimbingan belajar itu memang teman sekolah saya yang memang sudah saya kenal. Beberapa pelajar yang berasal dari sekolah yang berbeda, tidak begitu dekat dengan saya. Bahkan setelah berminggu-minggu, saya baru mengenali salah satu teman saya yang berasal dari SMA 81 Jakarta itu bernama Winda.

Winda selalu bersama-sama dengan teman satu sekolahnya, Putri. Di bimbingan belajar yang saya ikuti, sering diadakan try out atau uji coba berkala. Nilai saya memang tidak terlalu buruk, tapi saya tidak pernah menjadi 10 terbaik. Sementara winda dan putri selalu berada di 10 terbaik, bahkan 3 terbaik.

Pada semester pertama saya di kelas XII, saya jarang serius belajar, di sekolah, di rumah, maupun di bimbingan belajar. Di sekolah saya belajar hingga sore hari, sebenarnya saya sudah merasa lelah, sehingga saat belajar di bimbingan belajarpun saya jarang berkonsentrasi dan lebih banyak bercanda. Sangat berbeda dengan Winda dan Putri, selalu berkonsentrasi dan jarang bercanda ketika guru menjelaskan.

Hingga awal semester 2 tiba, saya mulai merasa panik, karena ujian akhir nasional akan segera tiba, namun saya merasa belum memiliki persiapan yang matang untuk menghadapinya. Saya menjadi lebih serius saat belajar di sekolah maupun dibimbingan belajar.

Setelah UAN berlalu, bimbingan belajar masih terus berjalan untuk mempersiapkan tes perguruan tinggi. Karena sudah merasa melewati UAN, semangat saya kendor lagi. Saya menghadiri bimbingan belajar dengan tidak bersemangat.

Setelah beberapa saat, saya baru meyadari bahwa Putri, tidak pernah datang lagi. Awalnya saya heran kenapa Putri yang rajin sekarang tidak pernah hadir. Ternyata, Putri telah mendapatkan PMDK dari Universitas Indonesia. Di saat-saat seperti ini memang jumlah orang yang mengikuti bimbingan belajar telah mulai berkurang karena ada yang telah diterima di universitas favorit mereka.

Satu demi satu ujian-ujian mandiri dari universitas favorit saya telah saya jalani, namun belum satupun saya berhasil. Sebenarnya Winda telah diterima di Universitas Padjajaran, tapi dian ingin mencoba mendapatkan Universitas Indonesia.

Hingga pada bulan-bulan terakhir saya mempersiapkan tes SNMPTN, jumlah murid bimbingan belajar itu berkurang drastic. Banyak yang sudah mendapatkan universitas favorit mereka. Murid-murid di bagi menjadi beberapa kelas, saya dan Winda berada di kelas yang sama. Karena dalam satu kelas hanya terdapat 5 orang, saya dan Winda menjadi akrab. Saya sering duduk di sebelah Winda, saya merasa perbadaan yang cukup jauh antara saya dan Winda dalam penguasaan materi, dan sikap belajar .

Dibulan-bulan terakhir itulah saya banyak belajar kepada Winda, saya menjadi lebih semangat belajar di kelas, maupun di luar kelas. Hingga akhirnya saya lolos ujian SNMPTN dan di terima di IPB. Mulai saat itu, Winda mengispirasi saya untuk terus semangat belajar.

Posted in Uncategorized | Leave a comment